This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 05 Desember 2013

GOOD FARMING PRACTICE "MANAJEMEN PERKANDANGAN SAPI PERAH"


Rabu, 04 Desember 2013

KONSUMSI DAN PRODUKSI PROTEIN SUSU SAPI PERAH LAKTASI YANG DIBERI SUPLEMEN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) DAN SENG PROTEINAT

A.P. Indriani, A. Muktiani dan E. Pangestu
Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang

RINGKASAN


Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respon sapi perah laktasi terhadap pemberian temulawak dan seng proteinat pada konsumsi dan produksi protein susu. Materi yang digunakan adalah 16 ekor sapi perah Peranakan Friesian Holstein. Ransum mengandung protein kasar 15% dan total digestible nutriens 65%, tersusun dari rumput gajah, rumput lapang, ampas tahu dan konsentrat pabrik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah T0 = Ransum kontrol, T1 = Ransum kontrol+ 2% suplemen temulawak, T2 = Ransum kontrol + 40 mg/kg Zn proteinat, T3 = Ransum kontrol+ 2% temulawak + 40 mg/kg Zn proteinat. Parameter yang diamati meliputi konsumsi bahan kering, protein kasar dan produksi protein susu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam, dan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan untuk menguji perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi temulawak menghasilkan konsumsi bahan kering lebih tinggi dibanding kontrol (12,45 kg vs 12,61 kg) tetapi tidak menghasilkan konsumsi protein kasar lebih tinggi (1798 g vs 1802 g). Suplementasi seng proteinat menghasilkan konsumsi bahan kering tidak berbeda dengan kontrol (12,51 kg vs 12,45 kg) tetapi menghasilkan konsumsi protein kasar lebih tinggi (1827 g vs 1802 g). Kombinasi suplementasi temulawak dan seng proteinat menghasilkan konsumsi bahan kering paling tinggi (12,70 kg) dan konsumsi protein kasar lebih tinggi dibanding kontrol (1826 g vs 1802 g). Meskipun secara statistik tidak berbeda nyata, suplementasi seng proteinat (T2) menghasilkan produksi protein susu tertinggi, sedangkan suplementasi temulawak cenderung menurunkan (T1 dan T3). Produksi protein susu masing-masing perlakuan T0, T1, T2, dan T3 yaitu sebesar 268 g, 246 g, 324 g, dan 296 g. Disimpulkan bahwa suplementasi temulawak meningkatkan konsumsi bahan kering tetapi menurunkan produksi protein susu. sedangkan suplementasi seng proteinat dapat meningkatkan konsumsi protein kasar maupun produksi protein susu. Konsumsi bahan kering, protein kasar dan produksi protein susu meningkat dengan suplementasi keduanya.

Kata kunci : sapi perah, produksi susu, temulawak, seng proteinat.

Lebih lanjut tentang penelitian ini bisa didiskusikan dalam forum twitter dan facebook kita atau bisa menghubungi link disini

PENGARUH PENGGUNAAN AJITEIN DALAM PAKAN TERHADAP PRODUKSI DAN KUALITAS SUSU SAPI PERAH

Sunu, K. P. W. 1), Hartutik 2), and Hermanto 3)
1) 2) 3) Nutrition and Feed Department, Faculty of Animal Husbandry, Brawijaya University


RINGKASAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek ajitein suplementation sebagai sumber protein di jatah laktasi sapi perah pada produksi susu dan kualitas. Materi dalam penelitian ini adalah dua belas sapi perah (Friesia Holstein crossbreed). Ada 4 perawatan, R0 = Pennisetum purpureum + berkonsentrasi tanpa ajitein + campuran jagung sekam dedak dan kedelai, R1 = Pennisetum purpureum + berkonsentrasi dengan 2% ajitein (DM konsentrat) + campuran jagung sekam dedak dan kedelai, R2 = Pennisetum purpureum + berkonsentrasi dengan 4% ajitein (DM konsentrat) + sekam dedak dan kedelai campuran jagung dan R3 = Pennisetum purpureum + berkonsentrasi dengan ajitein 6% (DM konsentrat) + campuran jagung sekam dedak dan kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak efek signifikan (P mengatakan 0,05) kering masalah asupan (DMI), asupan bahan organik (OMI), asupan protein kasar (CPI), kualitas susu, produksi susu dan rata-rata harian mendapatkan (ADG). Tertinggi DMI cenderung pada R1 (3.55% berat badan), OMI cenderung R1 (87.06% dari DMI), CPI cenderung R1 (14,25% dari DMI), produksi susu cenderung R1 (12.58 kg/kepala/hari) dengan peningkatan susu produksi sekitar 1,32 kg/kepala. Tertinggi kualitas susu cenderung R2 dengan kepadatan 1.0259 kg/l, 4.61% dari lemak, sebesar 8,46% dari lemak bebas padat (SNF) dan 13.07% dari total solid (TS). Tertinggi ADG cenderung R3 1038.10 g/kepala/hari. Ini berarti bahwa ajitein suplementation menjadi 6% sebagai iso protein pada sapi perah ransum tidak memberikan efek pada produksi susu, tetapi penggunaan ajitein dapat menurunkan harga per kg pakan untuk menghasilkan susu.

Keywords : ajitein, dairy cow, feed intake, milk production, milk quality, ADG

Lebih lanjut tentang penelitian ini bisa didiskusikan dalam forum twitter dan facebook kita atau bisa menghubungi link disini

Senin, 25 November 2013

MATERI KULIAH NUTRUM

Minggu, 24 November 2013

Rabu, 20 November 2013

KONSTRUKSI KANDANG

http://peternakantaurus.files.wordpress.com/2010/10/kandang-sapi-perah.jpg?w=640&h=426
Sebagai tempat yang digunakan untuk beternak serta tempat bagi ternak itu sendiri untuk memperoleh kebutuhan yang diperlukan. Maka kandang yang dibuat oleh peternak harusnya memenuhi standard yang telah ditentukan. Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.Terdapat persyaratan umum dan juga khusus , dimana peternak harus memenuhi persyaratan tersebut jika ingin dikatakan kandangnya memenuhi standar.
Berikut kami berikan persyaratan kandang baik secara umum dan khusus serta bahan bangunannya, sehingga anda dapat menilai sendiri apakah kandang yang telah anda buat telah memenuhi standard atau belum, kandang yang smemenuhi standard dapat menjaga agar ternak nyaman sehingga dapat mencapai produksi yang optimal,.
  • Persyaratan secara umum
    • Ada sumber air atau sumur
    • Ada gudang makanan atau rumput atau hijauan
    • Jauh dari daerah hunian masyarakat
    • Terdapat lahan untuk bangunan dengan luas yang memadai dan berventilasi
  • Persyaratan secara khusus
http://duniasapi.com/id/images/stories/artikel/572_cikol_3.jpghttp://duniasapi.com/id/images/stories/artikel/346_cikol2.jpg




  • Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m atau 2,5 x 2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5 x 1 m per ekor, dengan tinggi atas ± 2-2,5 m dari tanah
  • Ukuran bak pakan : panjang x lebar = bersih 60 x 50 cm
  • Ukuran bak minum : panjang x lebar = bersih 40 x 50 cm.
  • Tinggi bak pakan dan minum bagian dalam 40 cm (tidak melebihi tinggi persendian siku sapi) dan bagian luar 80 cm
  • Tinggi penghalang kepala sapi 100 cm dari lantai kandang
  • Lantai jangan terlalu licin dan terlalu kasar serta dibuat miring (bedakan ± 3 cm). Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat
  • Selokan bagian dalam kandang untuk pembuangan kotoran, air kencing dan air bekas mandi sapi : Lebar (L) x Dalam selokan (D) = 35 x 15 cm.
  • Selokan bagian luar kandang untuk pembuangan bekas air cucian bak pakan dan minum : L x D = 10 x 15 cm
  • Tinggi tiang kandang sekurang-kurangnya 200 cm dari lantai kandang.
  • Atap kandang dibuat dari genteng
  • Letak kandang diusahakan lebih rendah dari sumber air dan lebih tinggi dari lokasi tanaman rumput. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m). Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan
    kelembaban 75%.
  • Bahan bangunan yang bisa digunakan untuk kandang sapi perah:
  • Atap kandang: genteng tanah atau semen, bambu anyam berlapis plastik, kayu
  • Tempat pakan: Beton, Plastik, Kayu, Karet
  • Sekat tempat pakan :Kayu, pipa besi
  • Tempat minum: Plastik, Karet, Beton, Logam
  • Lantai Kandang: Beton berlapis karet, kayu tebal
  • Sekat sapi: Pipa, kayu
  • Selokan: Beton
  • Penutup Selokan: Besi, kayu

FUNGSI KANDANG

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgj9VX5WRywwDoVjwv3GAhwcA2o0M002aOw5e2uJ-z82wMO6mwWHJqx0ehjI_STk5j6i34bhMzt7DaCTohRcRNGm5Xn6YGEYCavBadwzAbEs5zKGxDmUzMlOwiLKigZ0W_-9VV0wtavleE/s1600/kavling-kandang-sapi.jpg
Kandang merupakan rumah bagi sapi perah. Kandang merupakan sarana wajib yang perlu di buat oleh peternak. Fungsi dari kandang itu sendiri bermacam-macam, seperti halnya
  1. Sebagai tempat tinggal bagi ternak agar terlindung dari pengaruh-pengaruh buruk iklim (hujan, panas dan angin) serta gangguan lainnya (hewan liar/buas dan pencurian).
  2. Menyediakan lingkungan yang nyaman agar ternak terhindar dari cekaman (stres) akibat perubahan lingkungan dan kebisingan, sehingga ternak dapat memberikan hasil produksi sebagaimana yang diharapkan.
  3. Mengendalikan kebutuhan ternak sesuai dengan tujuan pemeliharaan sebagai penghasil susu, daging dan lainnya.
  4. Membatasi ruang gerak bagi ternak agar energi yang dikonsumsi dalam bentuk pakan dapat diubah secara efektif sehingga dapat meningkatkan efesiensi penggunaan pakan dan kebutuhan tenaga kerja.
  5. Menyediakan suhu ambang dengan kualitas udara yang baik, tingkat gas beracun yang rendah dan pencahayaan yang cukup.
  6. Menyediakan perlengkapan pakan dan minum yang baik.
  7. Membuat hasil produksi yang lebih bersih.
  8. Mempemudah pengelolaan dan pengawasan.
  9. Mempermudah pengontrolan internal parasit dan masalah penyakit.
  10. Mencegah pencemaran lingkungan dari ternak yang membuang kotoran sembarangan.